Pernahkah kita merenungkan, berapa lama bumi terbentuk, berapa ribu tahun bumi dimanfaatkan oleh manusia, berapa banyak limbah yang sudah dihasilkan oleh pendududk di bumi? Mungkin juga hanya sedikit yang berpikir tentang kerusakan di tempat yang dipijak. Bumi tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya dan tidak ada penggantinya.
Sampah menggunung, banyak hutan tanpa pohon, spesies binatang banyak yang punah, banjir bandang, sungai dipenuhi limbah industri, hingga penggunaan listrik berlebihan memberi sumbangan situasi bumi saat ini. Mendorong anak-anak muda untuk lebih peduli pada lingkungan adalah salah satu cara untuk mengingatkan tentang kerusakan bumi menjelang peringartan Hari Bumi, 22 April.
Itulah sebabnya, para Siswa SMA Kristen Petra 5 Surabaya, khususnya kelas peminatan Geografi yang terdiri dari Kelas Geografi 1, 2 dan 3. Merancang kegiatan Orasi hari bumi untuk menyadarkan diri sendiri mengajak masyarakat untuk ambil bagian dan bertanggung jawab atas lingkungan terdekat. Para siswa yang mengikuti kelas peminatan Geografi 1, 2 dan 3 membentuk kelompok. Mereka merancang naskah orasi untuk tiap kelompok. Setiap kelompok mendapat waktu 1 menit. Lokasi orasi berlangsung traffic light Jemursari Surabaya yang dekat dengan sekolah.
Orasi berlangsung Rabu, (16/04/2024) dan Kamis, (18/04/2024) pukul 10.25 – 11.30 di traffic light Jalan Jemursari Surabaya menggunakan jam pelajaran Geografi yang didampingi guru pengajar Geografi yaitu : Rukmi Arumbi, Dwikki Rahadian., dan Poedji Rahajoe.
Tiap kelompok menggunakan kesempatan ketika lampu menyala merah dan pengguna jalan berhenti. Setiap kelompok Setiap kelompok berorasi selama 1 menit pada saat lampu merah menyala dan pengguna jalan berhenti. Setiap kelompok melakukan orasi tiga kali secara berturut-turut. Mereka berdiri di atas garis zebra cross sehinga tidak mengganggu laju lalulintas.
Tema yang diangkat diantaranya adalah: polusi udara, penebangan hutan, hemat air, perlindungan mangrove, kurangi sampah plastik, food waste, hemat listrik. Siswa sangat antusias dan dengan suara lantang mereka melakukan orasi. Cuaca yang sangat panas tidak menyurutkan mereka untuk mengajak pengguna jalan mencintai bumi dengan langkah praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan-tulisan edukasi yang mereka buat semakin menyadarkan pembaca untuk lebih mencintai bumi ini.
Cheryl Angel kelas Geografi – 1 membuat scrip yang tidak terlalu banyak, menarik, dan mudah di pahami. Itu kali pertama baginya berorasi di depan umum.
“Saya senang berbicara dengan orang-orang, walaupun tidak kenal. Saat berorasi pengguna jalan memang tidak leluasa memberi apresiasi. Dilirik saja, saya sudah bahagia, apalagi ketika mereka tersenyum atau melambaikan tangan. Saya bahagia bisa memotivasi sesama untuk menjadi lebih baik terutama untuk bumi”, kata Cheryl Kamis, (17/04/2024)
Lily Angelia Renata dan kelompoknya dari kelompok Plastik kelas Geografi-1 mengenakan jas hujan berwarna-warni yang bergambar silang di tengahnya untuk menandakan “Say No To Plastic”, Lily dan teman-temannya membuat Poster dan Totebag yang di desain sendiri. Mereka juga membagikan totebag yang didesain sendiri. Mereka juga membagikan kue kering.
“Saya berlatih public speaking secara gestur dan ekspresi juga tentunya agar tetap menjaga dan membanggakan nama almamater sekolah. Saat berorasi saya mengucapkan salam, ramah, tersenyum, dan menyebutkan poin-poin penting yang menyadarkan dan membangun mindset peduli lingkungan terhadap para pengendar yang sempat berbagi pengetahuan juga terkait sampah plastik berdasarkan data.
Bagi Annabelle Sanyatika Usfinit dari kelas Geografi 3 Sebelum orasi ia sempat takut dan ragu-ragu, sekaligus senang. Yang paling ditakutkan adalah lupa naskah atau salah ucap. Ketika akhirnya bisa melaksanakan tugas, Annabelle sangat senang. Seluruh kelompok juga senang karena menurut mereka , Annabelle membawakan orasi dengan semangat. Itu membuat pengguna jalan memperhatikan.
“Orator dapat menggunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami langsung oleh pendengar tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan, karena dengan waktu yang singkat kita harus menyampaikan semua pesan kita” ungkap JEHEZKIEL HERNANDA SEMBIRING kelas Geografi 1
Dengan menggunakan waktu 1 menit untuk menyampaikan pesan, itu adalah tantangan. Apalagi pengguna jalan tidak merespons.
“Rasa kecewa mungkin ada namun sebagai orator saya tetap bertekad untuk menyampaikan pesan saya dengan lantang tanpa mengurangi antusiasme saya sedikitpun. Hati saya tersentuh ketika penggendara merespon kita melalui senyuman, lambaian tangan, dan bahkan sapaan hangat”, imbuh Jehezkiel.
Sudah saatnya orang memisahkan sampah organik, meggunakan botol air isis ulang dan lebih peka terhadap dampak dari barang-barang yang yang dibeli. Cara sederhana itu bisa menjadi kebiasaan dengan membuang sampah pada tempatnya, meminimalkan penggunaan plastik dan beralih ke barang-barang yang dapat digunakan dalam jangka waktu panjang, serta hemat akan penggunaan energi dan air.
“Jangan membuang pakaian yang layak pakai namun tidak inggin digunakan lagi. Pakaian itu lebih baik dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Jangan lupa, menahan diri untuk membuang makanan dan minum secukupnya sebagai penghargaan kita kepada Tuhan,” kata Cheryl.
R.rr. Poedji Rahajoe, S.Pd
Guru Geografi, SMA Kristen Petra 5 Surabaya
Related Posts